Jumat, 17 Desember 2010

Retensio Plasentae — Plasenta Inkompletus

RETENSIO PLASENTAE — PLASENTA INKOMPLETUS
Penyebab
1) Retensio: nyeri lahir yang kurang kuat atau perlengketan patologi
2) Inkaiserasi: spasme pada daerah isthmus serviks, sering disebabkan oleh kelebihan dosis obat analgesik

Diagnosis
1) Plasenta tidak lahir spontan
Interval: maksimum 30 menit
Jumlah plasenta yang lahir spontan setelah 30 menit adalah minimum.
Di pihak lain, bahaya perdarahan meningkat hebat

2) Tidak yakin apakah plasenta lengkap
Pihak ibu kerusakan jaringan, ruptura
Pihak janin: pembuluh darah
Ujung bebas pembuluh darah dalam membrana vitelina: petunjuk untuk plasenta sekunder

Terapi
1) Retensio atau inkarserasi
Bila tak ada perdarahan atau hanya minimum:
3-5 unit Syntocin (oksitosin) IV, yang diikuti oleh usaha pengeluaran secara hati-hati dengn tekanan pada fundus, bila plasenta tidak lahir, usaha pengeluaran secara manual setelah 15 menit. nBila perdarahan lebih dari 200 ml: Segera coba pengeluaran secara manual.
2) Keraguan tenting lengkapnya plasenta Palpasi sekunder

Catatan:
1) Sebagian besar perkiraan kehilangan darah kurang dari yang sebenarnya Kehilangan lebih dari 500 ml meningkatkan bahaya syok perdarahan.
2) Jangan memaksa metode Crede; jangan melakukan metode Crede selama narkosis. Bahaya infus tromboplastin dan akibatnya koagulopati. Pada ketakcocokan golongan darah: imunisasi ibu melalui transfusi fetomaternal
Baca Selanjutnya..

Senin, 06 Desember 2010

Senam ringan setelah persalinan

Olah raga dapat Anda lakukan sehari setelah persalinan. Latihan ini bertujuan untuk memperbaiki peredaran darah, terutama di kaki dan mencegah terjadinya gumpalan darah. Di antara bentuk olah raga yang baik adalah senam ringan. Senam ringan yang bisa Anda lakukan yaitu:

a) Senam Kegel
Senam ini seperti ketika Anda menahan pipis. Tahan sampai hitungan 10 lalu lepaskan kembali. Dapat dilakukan dalam segala situasi (ketika sedang berdiri, duduk, masak, dll)
b) Senam otot perut
Berbaringlah terlentang dan tank nafas panjang. Sambil menghembuskan nafas coba bayangkan pusar Anda tertarik ke dalam menuju tulang belakang, sehingga perut terasa menegang. Tahan sampai 4 hitungan lalu lepaskan sambil menarik nafas.

c) Senam otot bokong
Berbaring terlentang sambil nafas panjang. Sambil menghembuskan nafas tegangkan kedua bokong sekencang mungkin, tahan sampai 4 hitungan. Kemudian lemaskan sambil menarik nafas. Ulangi berkali-kali.
Baca Selanjutnya..

Selasa, 30 November 2010

Pelayanan Antenatal

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal, seperti yang ditetapkan dalam buku Pedoman Pelayanan Antenatal bagi petugas puskesmas. Pelayanan antenatal yang lengkap mencakup banyak hal, seperti anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan kebidanan, pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, serta intervensi dasar dan khusus (sesuai risiko yang ada). Penerapan operasionalnya dikenal standar, minimal "5T" untuk pelayanan antenatal (timbang berat badan dan tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi tetanus toksoid secara lengkap, pengukuran tinggi fundus uteri, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan)

Dengan demikian, operasional pelayanan antenatal yang tidak memenuhi standar minimal 5T tersebut, belum dianggap suatu pelayanan antenatal. Selain itu, pelayanan antenatal ini hanya dapat diberikan oleh tenaga profesional dan tidak dapat dilakukan oleh dukun bayi. Ditetapkan pula bahwa frekuensi pelayanan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan waktu minimal 1 kali pada triwulan pertama, minimal 1 kali pada triwulan kedua, dan minimal 2 kali pada triwulan ketiga. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut ditentukan untuk menjamin mutu pelayanan, khususnya untuk memberi kesempatan yang cukup dalam menangani kasus risiko tinggi yang ditentukan.

1. Cakupan KI dan K4. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) dan pelayanan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali dengan distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali pada triwulan kedua, dan dua kali pada triwulan ketiga (K4). Cakupan K1 pada tahun 1996 secara nasional adalah 84,11% dengan kisaran antara 63,58% (di Provinsi Irian Jaya) dan 105,34% di Provinsi Timor Timur). Jika dibandingkan dengan sasaran Pelita VI tahun 1996/1997 secara nasional, yaitu 85%, rata-rata cakupan tersebut masih belum memenuhi target. Cakupan K4 pada tahun 1996 secara nasional adalah 65,72% dengan kisaran antara 29,4% (di Provinsi Irian Jaya) dan 90% (di Provinsi Lampung). Jika dibandingkan dengan Pelita VI tahun 1996/1997 secara nasional 75%, cakupan tersebut masih belum memenuhi sasaran.

2. Cakupan Fel dan Fe3. Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil dapat dibedakan menjadi Fel, yaitu yang mendapat 30 tablet dan Fe3, yaitu yang mendapat 90 tablet selama masa kehamilan. Cakupan Fel pada tahun 1996 secara nasional adalah 69,67% dengan kisaran antara 22,74% (di Provinsi Sumatera Utara), sedangkan cakupan Fe3 secara nasional adalah 61,78% dengan kisaran antara 22,74 (di Provinsi DKI Jakarta) dan 88,42% (di Provinsi Sulawesi Tenggara).
Ada kecenderungan peningkatan cakupan pemberian tablet besi bagi ibu hamil dari tahun 1994 sampai dengan 1996. Jika dibandingkan dengan sasaran akhir Pelita VI, pemberian tablet zat besi pada ibu hamil sebesar 85%, memang baik cakupan Fel dan Fe3 masih berada di bawah sasaran tersebut.

Referensi
Kebidanan Komunitas Oleh Safrudin, SKM, M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes
Baca Selanjutnya..

Taksonomi Penelitian Kebidanan

Secara taksonomis, ada dua aliran utama yang dianut dalam kegiatan penelitian pada umumnya, termasuk penelitian kebidanan, yaitu aliran positivistik dan aliran fenomenologi. Aliran positivistik melahirkan praktik penelitian dengan pendekatan kuantitatif, sedangkan aliran fenomenologi melahirkan praktik penelitian dengan pendekatan kualitatif.

Kedua pendekatan ini sering menjadi sumber "gosip" pada kalangan mahasiswa dalam kerangka memilih calon pembimbing. Sexing kali kita dengar di ruang-ruang kuliah atau pada saat terjadi diskusi antarsesama mahasiswa, muncul sikap memberi label dosen tertentu sebagai penganut fanatik penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Sebaliknya, dosen lain diberi label sebagai penganut fanatik penelitian kualitatif. Jika dibimbing oleh Prof. Anak Maras. P.hD., pendekatan penelitian yang dipakai harus kuantitatif? Sebaliknya, dosen yang lain ada yang moderat. Ada pula yang menjadi penganut fanatik pendekatan kualitatif. Demikianlah, kira-kira ujaran sekelompok mahasiswa mengenai sikap atau pendirian dosen mereka atas dua ranah penelitian itu.

Pelabelan semacam itu bukan tidak beralasan. Sejak tahun 1930-an, banyak peneliti secara sempit telah mendefinisikan metode ilmiah meliputi hanya penelitian kuantitatif. Metode penelitian ini didasari filosofi logika empiris atau aliran positivistik. Walau bagaimanapun, pengetahuan ilmiah dibangun melalui aplikasi prinsip-prinsip logis dan penalaran. Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan formal, objektif, dan proses kerja yang sistematik. Pada penelitian kuantitatif, data numerik digunakan untuk memperoleh informasi tentang dunia ini. Metode penelitian ini digunakan untuk menjelaskan variabel, menguji hubungan antarvariabel, dan menentukan interaksi sebab dan akibat antarvariabel.

Penelitian kualitatif adalah pendekatan sistematis dan subjektif yang digunakan untuk menjelaskan pengalaman hidup dan memberikan makna atasnya. Penelitian kualitatif bukan ide bare dalam ilmu-ilmu sosial atau perilaku, dan barangkali juga hal itu akan berkembang di dunia penelitian kebidanan. Tipe penelitian macam ini dilaksanakan untuk menjelaskan dan mendorong pemahaman tentang pengalaman manusia dalam aneka bentuk. Apakah metode penelitian kualitatif itu ilmiah? Bukan di sini persoalannya. Ketika emosi manusia sulit dikuantifikasi, misalnya dengan menggunakan nilai numerik, penelitian kualitatif tampaknya menjadi metode yang lebih efektif untuk menginvestigasi respons emosi ketimbang penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif berorientasi pada upaya memahami fenomena secara menyeluruh. Pendekatan penelitian semacam ini konsisten dengan filosofi holistik di bidang kebidanan.

Referensi
Kebidanan - EGC
Baca Selanjutnya..